3 Kejanggalan ini diduga jadi penyebab pesawat Sriwijaya SJ182 jatuh

Munculnya banyak spekulasi pesawat Sriwijaya SJ182 yang jatuh di Kepulauan Seribu, membuat FAA Flight Instructur & Citation V Jet Caption CEO  Capt Gema Goeyardi memberikan informasi guna meluruskan banyaknya spekulasi pesawat Sriwijaya jatuh.


Menurut Gema terdapat 3 kejanggalan yang terjadi hanya dalam satu menit sebelum pesawat Sriwijaya SJ182 mengalami kecelakaan yang diketahui jatuh di perairan Kepulauan Seribu.  


Nah Gema menyebut ada kejanggalan yaitu Awalnya dengan ketinggian pesawat paling tinggi 10.900 kaki serta Kecepatan vertical pesawat saat itu dilaporkan 512 feet per menit, artinya pesawat naik sesuai dengan vertical navigation performance setelah 10,000 feetdimana kecepatan akan masuk dalam constraint speed sesuai ECON configuration dari 737-500.


FAA Flight Instructur & Citation V Jet Caption CEO Capt Gema Goeyardi Foto: Doc Gema Goeryadi

Tiba-tiba pada jam 07.40 UTC pesawat tiba-tiba drop hingga -4,544 feet per menit. Kemudian track-nya mulai miring ke kiri 6 derajat dari 23 derajat. Beberapa detik kemudian vertical speed- nya menjadi minus 27.392 feet per menit. Selain itu, arah direction pesawat kembali miring ke kiri sejauh 339 derajat, yang artinya ini deviasinya sudah 30 derajat ke kiri. Pesawat sudah tidak dapat di control.


“Jadi bisa dibayangkan dari yang seharusnya track jalur 23 derajat, miring 6 derajat dan dalam hitungan detik menjadi 339 derajat. Di sini diketahui bahwa pesawat ketika jatuh dalam kondisi berputar ke kiri,” jelas Gema kepada Hops.id Minggu 10 Januari 2021.


Dengan penjelasan tersebut, ditegaskan jika kondisi pesawat dianalisa dalam posisi berputar ke kiri. Sehingga diperkirakan ada dugaan loss of aircraft control , namun hal tersebut harus tetap dibuktikan melalui data Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder maupun metode lainnya secara menyeluruh.


Kecelakaan Pesawat Sriwijaya. Foto: Antara

Sehingga analisis yang diungkap Gema, muncul 3 pertanyaan utama yang harus diselidiki pihak terkait, Pertama mengapa pesawat bisa di ketinggian 10.900 kaki drop jadi 4500 kaki, terus berputar ke kiri dan menukik hingga -30,000 feet per menit, dan Ketiga mengapa pesawat mencoba untuk naik di 22.000 kaki per menit sebelum terjadi kecelakaan.


Anehnya lagi diungkap Gema, jika seluruh kejanggalan tersebut hanya terjadi dalam waktu singkat yakni 1 menit.


Untuk melakukan analisa ini, Gema Goeyardi menggunakan metoda data sekunder terbaik yang bisa diperoleh menggunakan teknologi ADS-B. ADS-B yang merupakan singkatan dari Automatic Dependent Surveillance – Broadcast-Sebuah sistem pemantauan (surveillance) penerbangan nir radar. Dimana pesawat udara yang dilengkapi dengan sebuah transponder akan mengirimkan data penerbangan secara otomatis (automatic).


Data yang diperoleh antara lain posisi dan kecepatan diperoleh dari sistem satelit navigasi GNSS (Global Navigation Satellite System). 


“Sehingga dari apa yang kita peroleh itu bisa dijadikan referensi awal menggunakan data sekunder untuk menjawab rasa ingin tahu publik. Yang tentunya kita analisa seakurat mungkin berdasarkan kaidah yang kami pelajari,” begitu papar Gema Goeyardi tentang metoda analisisnya dalam kasus ini. Untuk menambah referensi, dia juga menggunakan pengalaman dari kejadian di dunia penerbangan masa lalu sebagai referensi.


Gema menganalogikan bahwa sebuah kecelakaan bukan hanya 1 faktor, namun mata rantai ini mirip sebuah teori swiss cheese model yang diperoleh dalam sebuah risk management dunia penerbangan. Dimana kecelakaan dimulai dari sebuah kecelakaan bisa bermula dari Bahasa yang kecil, lalu tersambung/terususun rapi tersambung hingga menjadi besar dman semua muncul dalam 1 momen hingga menjadi sebuah kecelakaan.


Ilustrasi kecelakaan pesawat Foto: Aerotime

Beberapa penyebab kecelakaan pesawat

Rentetan kejadian peristiwa kecelakaan yang terjadi di dunia termasuk Indonesia, memiliki banyak penyebab mulai dari kesalahan manusia hingga kerusakan teknis. Seluruh penyebab tersebut menjadi faktor utama kecelakaan pesawat sering terjadi.


Gema juga mengkategorikan beberapa kecelakaan yang terjadi karena beberapa faktor mulai  human factor, malicious interference, cuaca yang buruk sehingga menyebabkan gangguan selama penerbangan, dan


“Ada juga system mal-function dimana kemungkinan ada hal yang membuat bagian di pesawat tidak berfungsi,”jelasnya.  


Berdasarkan catatan, ada beberapa rangkaian kecelakaan pesawat karena ketiga hal berikut, yaitu: Adam Air – KI574 yang jatuh di perairan Mejene-Sulawesi (Human Factor), Air Asia QZ 8501 (Human Factor) dan Lion Air JT 610(system malfunction).


Penyebab terseut menjadi hal yang perlu diketahui masyarakat umum terkait sering terjadinya kecelakaan pesawat dan tentunya menjawab banyak spekulasi soal biaya perawatan pesawat minim hingga kemampuan pilot yang dikaitkan dalam peristiwa kecelakaan pesawat selama ini.  

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1



Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel